• This is slide 1 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 2 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 3 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 4 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 5 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
Tampilkan postingan dengan label Seni budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 November 2022

Pertunjukan Musik

         Pertunjukan Musik

Pengertian Pertunjukan Musik

Sesuai dengan pengertian dalam Kitas Besar Bahasa Indonesia (2008 dalam Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 53), istilah pertunjukan berarti sesuatu yang dipertunjukkan atau tontonan (bioskop, wayang, dsb), atau juga pameran. Sementara itu, musik adalah karya seni bermedia getaran yang membentuk suara berupa aransemen unsur musik, sehingga dapat dinikmati melalui pikiran dan perasaan melalui indra pendengaran. Mengacu pada kedua pengertian di atas, pengertian pertunjukan musik adalah karya seni musik yang dipertunjukkan atau dipergelarkan agar dapat dinikmati oleh penonton.

Seperti yang tertera pada judul artikel ini, pertunjukkan menjadi empasis utama dari yang akan dibahas pada kesempatan kali ini. Berikut adalah berbagai konsep pertunjukan musik mulai dari teknik, bentuk, jenis, serta prosedur untuk merancang dan menggarap pertunjukan musik.

Teknik Pertunjukan

Teknik pertunjukan mengacu pada beberapa pertanyaan sebagai berikut: apa yang akan saya tampilkan? Di mana posisi saya dalam pertunjukan? Bagaimana saya terlihat oleh penonton? Bagaimana saya dapat bersikap tenang selama proses pertunjukan? Dan, bagaimana saya dapat menguasai instrumen dan latihan?

Berdasarkan beberapa pertanyaan itu maka teknik pertunjukan musik dapat mencakup :

  1. karya musik yang akan dimainkan;
  2. penempatan pemain di atas panggung (blocking);
  3. aspek psikologis para pemain selama pertunjukan; dan
  4. penguasaan permainan musik dan latihan (Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 56).

Namun pertunjukan bukanlah suatu kegiatan yang hanya melibatkan satu bidan seni saja. Dari istilahnya saja, pertunjukan tidak mengacu pada musik yang sebetulnya diperdengarkan, bukan dipertontonkan, betul bukan? Oleh karena itu, pada akhirnya, suatu pertunjukan akan membutuhkan kolaborasi seni.

Hal pertama yang harus dilakukan dalam menggarap suatu pertunjukkan adalah menentukan tema. Tema adalah ide dan acuan utama dari suatu pertunjukan. Ambil contoh, kita dapat menentukan tema cinta sebagai suatu konsep pertunjukan yang akan menampilkan berbagai lagu klasik bertemakan cinta di panggung. Tema yang tepat akan menarik banyak animo sehingga membuat suatu pertunjukan dapat berjalan dengan sukses.

Penentuan Tema Pertunjukan Musik

Penentuan tema ini tentunya gampang-gampang mudah. Terkadang hal ini dapat menyita banyak waktu karena kita tidak memiliki suatu ide yang jelas seperti contoh di atas. Tema juga perlu digodok dengan baik agar dapat berhasil dan sesuai dengan kebutuhan pertunjukan, sehingga tema dapat tersampaikan dengan baik dan mengena. Lalu sebetulnya apa yang harus kita lakukan untuk menentukan satu tema? Menurut Tim Kemdikbud (2018, hlm. 57) beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menentukan suatu tema yang dapat digunakan untuk kolaborasi seni adalah sebagai berikut :

  1. Pengamatan/Observasi.
    Coba amati lingkungan di sekitar kita, mungkin akan terlihat orang berjalan hilir-mudik, kendaraan yang bergerak, lalu lintas yang padat, suara burung atau katak, gemericik air, suasana di pagi hari, atau hal-hal lainnya. Bisa jadi terdapat hal-hal menarik yang dapat kita jadikan sumber inspirasi dari tema pertunjukkan.
  2. Pemahaman terhadap tema yang dipilih.
    Setelah kita melakukan pengamatan, adakah sesuatu yang paling menarik untuk dijadikan sebagai tema dalam permainan musik? Apa tema yang paling menarik perhatian itu?
  3. Mencari data tentang tema yang dipilih.
    Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang tema yang telah kita pilih dari beragam sumber. Lakukanlah uji coba terhadap tema yang dipilih. Data apa saja yang kita peroleh setelah melakukan uji coba itu? Elemen-elemen apa saja yang terkandung di dalam tema itu?
  4. Mengasosiasikan data dengan unsur musik, tari, rupa, dan teater.
    Seluruh data yang terkumpul mengenai elemen-elemen dalam tema kemudian dibagi ke dalam beberapa kategori. Beberapa kategori tersebut kemudian diasosiasikan dengan elemen musik, gerakan tubuh, dan visual. Apabila ketiga kategori tersebut digabungkan, hasil seperti apa yang kita peroleh?
  5. Mengomunikasikan hasil uji coba yang sesuai dengan tema.
    Setelah kita memperoleh hasil dari empat proses di atas maka komunikasikanlah tema kita dalam bentuk kolaborasi seni dalam permainan musik. Hal ini dilakukan agar seluruh pihak yang terlibat dapat memahami tema serta berkolaborasi baik memberikan masukan maupun melaksanakan.

Penempatan Pemain di Atas Panggung

Kedua, penempatan pemain di atas panggung. Sebelum kita menentukan posisi pemain, tentukan dahulu berapa kategori pemain dalam pertunjukan musik yang kita rencanakan. Pemain dalam konteks pertunjukan dapat melibatkan beberapa kelompok, seperti pemain musik, penari, pemeran lakon, penyanyi, dan kelompok paduan suara.

Bagaimana penempatan para pemain itu dalam pertunjukan sehingga penonton dapat melihat mereka dengan jelas? Untuk menjawab pertanyaan itu terlebih dahulu kita harus mengetahui jenis panggung yang akan kita gunakan untuk melakukan pertunjukan musik. Perhatikan dua jenis panggung berikut ini:

  • Panggung yang hanya dapat disaksikan penonton dari satu arah. Jenis panggung ini disebut panggung proscenium.
  • Panggung arena adalah panggung yang terletak di luar gedung. Para pemain dapat dilihat oleh penonton dari segala arah. Umumnya, panggung ini digunakan dalam pertunjukan teater tradisi.

Prosedur Pertunjukan Musik

Setelah teknik pertunjukan, aspek lain yang perlu kita pahami adalah prosedur pertunjukan. Prosedur dapat dipandang sebagai cara-cara tertentu untuk menyempurnakan suatu tindakan. Dalam hal ini, tindakan yang dimaksud adalah pertunjukan. Oleh karena itu prosedur pertunjukan dapat diartikan sebagai cara-cara tertentu untuk menyempurnakan pertunjukan. Hal-hal apa saja yang dapat menyempurnakan suatu pertunjukan?

Untuk membuat suatu pertunjukan yang baik maka kita harus menentukan bentuk kolaborasi seni dengan tema yang jelas. Kira-kira 3 – 6 bulan sebelum pertunjukan. Setelah tema yang jelas telah disepakati maka tindakan selanjutnya adalah :

  1. Menyeleksi permainan musik atau lagu-lagu dan instrumen yang akan digunakan dalam pertunjukan. Kemukakan rencana kita kepada pihak yang akan meneruskan rencana tersebut ke Sponsor atau yang memiliki kepentingan seperti guru dan kepala sekolah, jika di sekolah.
  2. Tahap selanjutnya adalah membuat jadwal latihan. Hal pertama yang dilakukan dalam jadwal latihan adalah melatih permainan musik dengan menggunakan instrumen-instrumen yang sudah ditentukan, latihan gerakan dengan musik, dan latihan memerankan lakon yang sesuai dengan peran yang akan dimainkan.
  3. Setelah permainan musik, gerakan, dan memerankan lakon sudah dianggap cukup baik maka jadwal selanjutnya adalah menggabungkan seluruh unsur itu dalam suatu kesatuan atau kolaborasi seni.
  4. Tahap selanjutnya adalah merancang kostum dan properti yang akan digunakan oleh seluruh kelompok pemain. Kostum tersebut sebaiknya disesuaikan dengan tema pertunjukan.

Prosedur Pelaksanaan Pertunjukan Musik

Kira-kira dua bulan sebelum pelaksanaan pertunjukan, sebaiknya mulai membuat keputusan tentang latar dan properti panggung yang sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Setelah disepakati, mulailah membuat latar dan properti panggung. Jika latar dan properti panggung telah selesai dibuat, kamu perlu membiasakan diri dengan kedua elemen tersebut menjelang pelaksanaan pertunjukan.

Setelah itu, kita juga harus mempersiapkan rancangan buku program pertunjukan atau buku acara. Hal penting lainnya yang perlu dipersiapkan adalah pembentukan tim panitia pertunjukan. Untuk memperlancar proses pertunjukan, kita juga perlu mempertimbangkan tersedianya ruang untuk para pemain melakukan pemanasan atau berkumpul dan ruang untuk mengganti kostum.

Prosedur terakhir yang harus dilakukan adalah memeriksa seluruh peralatan yang akan digunakan, seperti :

  1. peralatan musik (termasuk instrumen),
  2. sound system,
  3. properti,
  4. tirai panggung,
  5. menyetem instrumen, dan
  6. memeriksa keamanan lantai panggung.

Seni Rupa Murni

                             Seni Rupa Murni

Pengertian Seni Rupa Murni

Seni rupa murni adalah seni rupa yang mengutamakan keindahan dan keunikan karyanya, tanpa memperhatikan fungsi dari benda yang diciptakannya. Dalam bahasa inggris, seni murni disebut “fine art” yang secara harfiah berarti “seni mendetail”. Detail di sini berarti karya seni yang dibuat sangat memperhatikan detail-detail kecil nilai estetis yang jarang diperhatikan oleh perupa pada umumnya.

Perupa seni lain bisa saja meninggalkan detail kecil nilai estetis untuk mengikuti keinginan klien atau kebutuhan pasar. Sementara seniman murni tidak harus melakukannya, meskipun pada akhirnya seni murni juga akan menciptakan pasarnya sendiri dan membutuhkan sedikit konsolidasi. Intinya, jika senimannya berkehendak, ia dapat benar-benar menanggalkan seluruh aspek komersil dan manfaat dari karya yang ia ciptakan.

Batasan Seni Murni

Namun bukan berarti perupa murni dapat meracau seenaknya menciptakan benda yang menurut ia adalah seni. Bagi kalangan awam, beberapa seniman murni mungkin tampak seperti itu. Kenyataannya, banyak tantangan yang harus dihadapi ketika seseorang menciptakan karya seni murni.

Karya seni murni harus mendapatkan pengakuan dari para penggiat dunia seni yang akan mengapresiasi, mengkaji, dan mengkritik karya seni. Para penggiat dunia seni tersebut meliputi: kritikus seni, akademisi, kurator, pemilik galeri, perupa murni lain, hingga para kolektor yang akan membeli karya mereka. Sebetulnya masyarakat umum juga merupakan bagian dari lingkaran sosial seni, namun seorang perupa murni dapat mengabaikan satu atau dua, bahkan semua lingkaran medan seni tersebut.

Vincent Van Gogh adalah salah satu seniman yang pada masanya terlalu sibuk dengan proses penciptaan karya dan mengabaikan medan seni. Ia berakhir dengan tidak mendapatkan apresiasi yang layak sepanjang hidupnya. Vincent Van Gogh baru diakui kehebatannya setelah ia telah meninggal dunia. Kisahnya mengingatkan kita bahwa kemampuan mengarungi medan seni menjadi sangat penting jika kita hendak berusaha untuk menjadi seorang perupa seni murni.

Intinya, meskipun seni rupa murni adalah bidang yang sangat bebas dan memang seharusnya membebaskan, masih terdapat batasan-batasan umum yang mengaturnya. Berbagai pergolakan politik hingga ke polemik dari berbagai kalangan masyarakat seni dapat terjadi di dalamnya. Hanya kebebasan itu sendiri yang dapat bebas dari lingkaran sosial kehidupan manusia.

Perbedaan Seni Rupa Murni dan Seni Rupa Terapan

Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa seni rupa murni tidak memperhatikan nilai guna dari karya yang dibuat. Sebaliknya, terdapat seni yang mengutamakan fungsi di atas nilai estetis dan biasa disebut sebagai seni rupa terapan (applied art) atau desain. Seni rupa terapan mengutamakan fungsi dari benda seni yang diciptakan dan menghasilkan benda seni seperti pakaian, arsitektur gedung, benda dekorasi, dsb.

Tapi tunggu dulu, ternyata seni rupa terapan dapat membuat benda dekorasi yang hanya berfungsi untuk memperindah ruangan. Kalau begitu, apa bedanya dengan seni murni?

Bedanya, seni murni tidak harus menciptakan suatu karya yang tampak indah saja. Seni murni bebas mengeksplorasi ide radikal yang terkadang membuat karyanya tampak jelek dan tidak indah ketika di pandang, namun memiliki nilai lebih lain, misalnya unsur ekstrinsik berupa pesan moral, pesan sosial, hingga pandangan, gagasan, atau ekspresi senimannya sendiri mengenai suatu hal.

Kata kunci utama yang membedakannya juga adalah seni terapan mengedepankan fungsi, sementara seni rupa murni tidak mempertimbangkannya sama sekali. Bahkan dalam beberapa karya seni murni akan ditemukan benda pakai yang diisolasi dari fungsinya dan menjadi tidak berguna.

Seni rupa murni juga dapat menciptakan karya yang tidak menghasilkan produk. Misalnya seni performans (performance art) yang mengutamakan aksi dari senimannya sendiri. Lalu, ada seni konseptual yang hanya membuat rangka-biru suatu karya tanpa harus membuat benda seninya saat itu juga, karya hanya akan dibuat atau disusun ketika karya di pamerankan.

Fungsi Seni Rupa Murni

Lucu rasanya jika membahas fungsi seni rupa murni yang jelas-jelas sudah tidak mementingkan aspek fungsionalitasnya. Secara intrinsik, atau dalam kacamata wujudnya itu sendiri, seni rupa murni jelas tidak memiliki fungsi apa pun. Bahkan karya seni murni belum tentu cocok untuk dijadikan benda dekoratif.

Seni murni adalah bentuk apresiasi terdalam pada seni, sehingga ketika berhasil dibuat dengan baik, keunikan dan muatan positif yang dibawanya akan memancar keluar dari dunianya sendiri. Seni murni dapat memiliki berbagai nilai ekstrinsik  berupa: fungsi pesan sosial, seruan kebaikan atau sebaliknya: kritik tajam terhadap suatu issue, hingga ke berbagai renungan filosofis yang menciptakan pertanyaan dan masalah baru untuk mengembangkan kehidupan manusia.

Seni rupa murni juga merupakan media eksperimen untuk terus mengembangkan dunia seni rupa ke tahap selanjutnya. Genre pop art pada masanya hanya digunakan oleh kalangan-kalangan tertentu dan kurang diminati oleh masyarakat. Sekarang, aliran pop art merupakan salah satu gaya favorit yang banyak digunakan oleh masyarakat luas dalam berbagai bidang seperti fashion, poster, desain brosur, dekorasi rumah, dsb.

Jenis Seni Rupa Murni

Seni murni terus mengembangkan sayapnya dan tak pernah berhenti untuk bereksperimen baik dari segi media, ide dan bentuk umumnya. Beberapa contoh jenis seni rupa murni yang ada adalah sebagai berikut.

  1. Seni Lukis. Adalah salah satu media utama yang paling banyak digunakan dari sejak zaman klasik hingga zaman modern.
  2. Seni Patung. Bentuk seni rupa murni tiga dimensi yang dapat diapresiasi dari berbagai arah.
  3. Seni Instalasi. Yaitu media seni rupa yang tidak mengenal batasan media dan dapat berupa gabungan dari media 2d dan 3d yang berisikan lukisan, patung, video, kriya, dsb.
  4. Seni Video. Dalam konteks seni murni, video tidak diperlakukan untuk menghasilkan suatu narasi seperti film, video hanya digunakan untuk menampilkan ekspresi, ide atau pesan yang ingin disampaikan oleh seniman secara tidak harfiah/langsung.
  5. Seni Performans. Jenis ini menitikberatkan aksi pertunjukan yang diperagakan langsung oleh senimannya.
  6. Seni Konseptual. Seni yang menitikberatkan pada ide dan konsep yang diciptakan, bukan artefak benda seninya sendiri.
  7. Land Art. Jika seni patung memiliki batasan terhadap suatu benda, lalu seni instalasi hampir boleh dikatakan terikat pada suatu ruangan, maka land art tidak terikat pada apapun, suatu pulau kecil atau gedung yang menjulang tinggi juga bisa menjadi medianya.
  8. Kriya murni. Kerajinan tangan yang dihilangkan nilai fungsinya dapat menjadi suatu karya seni rupa murni.

Penutup

Seni rupa murni merupakan cabang seni rupa yang paling sulit untuk diikuti dan dipahami dalam praktiknya. Hanya sebagian kecil pelaku dunia seni rupa yang dapat mengarungi kejamnya rimba buas ini. Menjadi seniman hari ini, tidak berarti harus menjadi seorang perupa murni. Nyatanya seni rupa terapan justru dapat memberikan dampak instan yang berguna saat ini juga yang berarti, perupa seni terapan adalah seorang teknokrat. Dibutuhkan dedikasi yang tinggi dan sangat berisiko untuk menjadi seorang seniman seni murni.

Seni Rupa 3 Dimensi

Seni Rupa 3 Dimensi 

Pengertian Seni Rupa 3 Dimensi

Seni rupa 3 dimensi adalah karya seni rupa yang memiliki tiga ukuran atau sisi atau memiliki ruang ketiga berupa kedalaman (biasa disimbolkan dengan huruf “z”), berbeda dengan karya 2 dimensi yang hanya memiliki panjang dan lebar saja (x dan y). Misalnya, seni rupa 3 dimensi itu patung, sementara karya 2 dimensi itu lukisan.

Berbeda dengan karya 2 dimensi yang hanya dapat dilihat dari satu sisi (permukaan depannya saja), karya seni rupa 3 dimensi dapat dilihat dari berbagai sisi. Selain menambah sudut pandang yang dapat diambil, hal ini juga tentu memberikan tambahan ruang gerak kreasi. Ruang gerak kreasi tersebut misalnya suatu karya seni rupa 3 dimensi dapat memuat karya 2 dimensi lain di salah satu atau bahkan semua permukaan karyanya.

Perbedaan / Keunikan Karya Seni Rupa 3 dimensi

Selain perbedaan unsur ruang atau jumlah sisi, kata kunci lain dari perbedaan antara karya seni rupa 2 dimensi dan 3 dimensi adalah tingkat abstraksi. Seni rupa 2d memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi, sementara karya 3d memiliki tingkat kerealistikan atau kenaturalan yang lebih tinggi.

Mudahnya, 2d itu lebih kekartun-kartunan, sementara 3d itu sangat realistis, sama dengan keadaan dunia kita yang memang sudah diamini memiliki tiga dimensi. 3d adalah dunia yang kita singgahi sehari-hari, sementara 2d berada di ranah imajiner yang lebih tinggi dan membutuhkan daya imajinasi yang lebih tinggi pula untuk menikmatinya.

Namun dibalik kelebihan seni rupa 3d yang lebih realistis dan dekat dengan kita sebagai penghuni alam 3d, hal ini juga menimbulkan kekurangan. Sesuatu yang terlalu realistis dapat menjadi sangat biasa dan diabaikan oleh pemirsa. Karena sifatnya terlalu sehari-hari sehingga kurang menjadi pusat perhatian.

Seni rupa 2 dimensi menitikberatkan pada penghayatan dan daya imajinasi yang lebih untuk mengapresiasinya. Sehingga daya apresiasi audiens akan jauh lebih tinggi dan dapat dengan mudah terpancing untuk tergerak hatinya dalam menciptakan suatu penafsiran pesan atau makna karya.

Karya seni rupa 3 dimensi tidak mendapatkan kelebihan tersebut. Sehingga akan lebih sulit untuk dipahami esensi artistiknya, terutama dalam ranah keindahan batin. Maka membutuhkan ketelitian khusus agar karya dapat memancing penikmatnya untuk menjadi lebih imajinatif.

Misalnya, patung cenderung dibuat menjadi sangat monumental (lebih besar) agar menjadi lebih standout dari hal sehari-hari. Seni patung klasik juga tidak pernah diwarnai dan dibiarkan memancarkan tekstur asli bahannya agar tidak terlalu realistik dan memiliki citra pemancing imajinasi yang setara dengan karya 2d.

Misalnya, coba lihat bagaimana patung Garuda Wisnu Kencana di bawah ini berukuran sangat besar dan monumental, hingga menyamai ukuran gedung perkantoran, dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter.

Garuda Wisnu Kencana

Karya-karya 3d juga banyak mengaplikasikan bentuk-bentuk geometris yang simetris untuk “menyaingi” keindahan alam yang serba organik. Tentunya, hal tersebut lagi-lagi diharapkan akan mengundang daya apresiasi lebih dari para penikmat karya. Seperti bagaimana gedung perkantoran sering dibuat berdasarkan bentuk geometris saja dan tidak dibuat natural seperti alam.

Contoh Karya Seni Rupa 3 Dimensi

Dari pemahaman diatas, akan mudah bagi kita untuk membedakan mana karya 2d dan mana yang 3d. Lukisan tentunya dapat langsung dicoret dari contoh karya ini, sementara seni patung otomatis masuk kedalamnya. Beberapa contoh karya seni rupa 3d adalah sebagai berikut.

  1. Seni Patung. Merupakan karya seni rupa yang diciptakan dari bahan bervolume seperti batu, kemudian dapat dipahat atau dicetak untuk membentuk karya yang diinginkan.
    Contoh karya aliran renaisans: David oleh Michelangelo, gambar asli diperoleh melalui wikipedia.com
  2. Seni Instalasi. Karya yang memanfaatkan ruang dan tidak membedakan seni berdasarkan dimensinya, artinya seni instalasi dapat terdiri dari beberapa patung, objek non seni, lukisan, dsb yang membutuhkan pemasangan atau penyusunan untuk menjadi kesatuan yang utuh.
    contoh seni instalasi
  3. Arsitektur. Arsitektur adalah seni membuat bangunan hingga ke lingkungan sebagai sarana maupun prasarana kehidupan manusia dari segala aspek, baik tempat istirahat dan berlindung maupun untuk beraktivitas.
    bangunan gedung
  4. Seni Kriya. Kriya merupakan seni kerajinan tangan yang kebanyakan dibuat sebagai alat terapan yang membantu kehidupan sehari-hari. Misalnya poci dan cangkir untuk alat rumah tangga, furnitur seperti meja dan kursi, hingga ke wayang golek untuk seni pertunjukan.
    contoh kriya dengan bahan khas: menggunakan logam paku
  5. Environmental Art (Seni Lingkungan). Suatu wahana besar yang terintegrasi disebuah lingkungan (terdiri dari banyak bangunan dan penunjangnya) yang dirancang sedemikian rupa untuk menjadi satu kesatuan seni. Contohnya:, taman impian jaya ancol, kampung bambu, dsb.
    Narcissus Garden (1966) artefak performance art, Karya Yayoi Kusama. 1600 bola stainless steel (Foto oleh: emc, CC BY-NC-ND 2.0).

Jenis Karya Seni Rupa 3 Dimensi

Jenis-jenis yang terdapat pada seni rupa 3 dimensi masih sama dengan apa yang ada pada seni rupa 2 dimensi. Selain dapat dibagi berdasarkan dimensinya (2d dan 3d) seni rupa juga dapat dibagi berdasarkan fungsi dan temanya.

Berdasarkan fungsi, terdapat dua jenis seni, yaitu seni rupa terapan atau applied art dan seni rupa murni (fine art). Seni rupa terapan dibuat dengan tujuan yang lebih mengutamakan fungsi dan kenyamanan penggunannya. Sementara seni rupa murni adalah karya yang dibuat hanya untuk keindahan atau unsur estetis lainnya saja.

Sementara itu, tema adalah gagasan pokok dari suatu karya seni. Misalnya, karya seni tema cinta, relijius, lingkungan, hidup dan mati, dsb. Tema tidak selalu tampak secara kasat mata (eksplisit) justru malah lebih tampak secara tersirat (implisit).

Misalnya, tema lingkungan secara eksplisit dapat diidentifikasi dengan adanya objek-objek natural (alam) seperti flora, fauna dan pemandangan alam. Namun suatu karya tema ini justru dapat memuat objek-objek yang bertentangan dengan keindahan alam. Walaupun begitu, pesan yang ingin disampaikan oleh seniman masih sama, yaitu kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Nilai Estetis Karya Seni Rupa 3 Dimensi

Nilai estetis pada sebuah karya seni rupa dapat bersifat objektif dan subjektif. Nilai estetis objektif memandang keindahan sebuah karya seni rupa berada pada karya seni itu sendiri secara eksplisit atau kasat mata.

Selain itu pandangan bersifat objektif akan menilai bagaimana keindahan fisik karya tersebut jika dinilai berdasarkan efektifitas penerapan unsur dan prinsip seni rupa yang digunakan. Keindahan semacam ini tersusun dari komposisi yang baik, perpaduan warna harmonis, penempatan objek yang seimbang dan tampak menyatu, dsb.

Sedangkan secara subjektif, keindahan ditentukan oleh selera penikmatnya. Misalnya ketika seseorang melihat karya abstrak, ia tidak dapat menemukan nilai estetis dari penataan unsur rupa pada karya tersebut dan menganggap karya itu jelek dan terlalu mudah untuk dibuat. Ia merasa anak kecil pun sanggup membuat karya seperti itu.

Meskipun terasa sangat nyata, namun sayangnya penilaian tersebut sangatlah tidak kritis. Sebelum menghakimi suatu karya buruk, nilai dulu secara objektif. Jika unsur dan prinsipnya memang tidak menunjukkan karya yang baik, maka mulai cari sisi lain seperti apa konsep dibalik karya tersebut. Beberapa orang akan lebih menyukai karya abstrak dan merasa karya realistik justru terlalu menjemukan dan biasa saja.

Pandangan berbeda seperti itulah yang disebut dengan pandangan subjektif. Kecantikan itu relatif, orang Indonesia kebanyakan menyukai kulit putih, namun orang barat justru lebih tertarik terhadap warna kulit gelap seperti yang kita miliki.

Proses Berkarya Seni Rupa Tiga Dimensi

Pembuatan karya seni rupa tiga dimensi tentunya dilakukan berdasarkan suatu proses berkarya. Tahapan ini berbeda, tergantung dari karakteristik bahan, teknik, dan alat yang digunakan untuk mewujudkan suatu karya tersebut.

Namun secara model umum, tahapan dalam berkarya seni 3 dimensi masih sama seperti karya seni lain pada umumnya. Yaitu, dimulai dengan motivasi untuk berkarya. Motivasi tersebut dapat dibangun atau berasal dari dalam maupun luar diri senimannya.

Misalnya, seniman sudah memiliki ide atau gagasan dan alasan falsafah kenapa ia ingin menciptakan karyanya. Atau justru mendapatkan inspirasi dari pemandangan alam ata ubenda yang ada disekitarnya. Ide atau gagasan berkarya seni rupa 3d dapat diperoleh dari beragam sumber yang berbeda.

Setelah itu, dilanjutkan pada tahap pemilihan bahan, media, alat dan teknik yang dikuasai atau justru ingin dicoba dalam nama eksplorasi sekaligus latihan. Tentunya menggambar sketsa juga merupakan salah satu pokok dasar dari proses berkarya, baik karya seni rupa, desain, maupun seni rupa 3 dimensi.

Penulisan Naskah Lakon

Penulisan Naskah Lakon  

 Lakon, teks cerita, teks pidato, dan karya tulis lainnya dapat disebut sebagai naskah. Lakon termasuk salah satu naskah karena medianya adalah kata-kata. Namun tidak semua naskah disebut lakon teater atau drama, karena di dalam lakon teater mengandung unsur konflik dan dialog.

Konflik adalah cerita yang dibangun melalui adanya pertentangan pandangan tokoh, antartokoh atau unsur lain yang menghambat itikad baik dari peran utama sebagai ciri dari lakon teater atau drama. Sementara itu dialog atau monolog adalah media penyampaian yang digunakan oleh suatu lakon, bukan narasi atau cerita seperti cerpen. Mengapa? Karena lakon akan dipentaskan oleh pemerannya, tidak untuk dibaca.

Kedudukan lakon di dalam pementasan seni teater menjadi unsur yang amat penting. Lakon teater atau naskah lakon disebut-sebut sebagai nafas kehidupan di atas pentas melalui keutuhan unsur lakon diungkap sang kreator melalui beragam media seni yang meliputi kata-kata, rupa, bunyi, gerak dan totalitas tubuh manusia.

Lakon, kisah atau cerita di tangan sang kreator, yakni pemeran, sutradara (peramu seni teater, drama) merupakan bahan baku yang perlu diolah secara seksama. Proses pengolahan tersebut disebut dengan proses kreatif, yakni proses menginterpretasi teks tulisan menjadi konteks pementasan melalui perwujudan seni teater atau drama.

Naskah lakon dalam suatu pementasan teater juga memiliki fungsi atau manfaat untuk memberi kemudahan bagi sang penggarap agar penyelenggaraan teater lebih efektif dan efisien dalam menentukan langkah-langkah menyiapkan materi seni, produksi dan publikasi pementasan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai kepada khalayak atau penonton.

Oleh karena itu, tidak dapat diindahkan lagi bahwa naskah lakon adalah hal penting yang menjadi salah satu bagian vital dari suatu pementasan teater atau drama. Hal tersebut juga membuat penyusunan lakon menjadi pekerjaan yang tidak mudah.

Menyusun naskah lakon juga hanya dapat dilakukan apabila kita memiliki daya imajinasi dan kreativitas tinggi serta membiasakan diri untuk berlatih dan terus mengasah diri dalam hal dunia kepengarangan. Selain itu, dibutuhkan pula berbagai pengetahuan, teknik, dan bermacam kerangka kerja yang harus diketahui dan dilatih agar kita mampu menyusun naskah lakon dengan baik. Berikut ini akan disajikan berbagai literatur yang dapat kita manfaatkan agar kita mampu menjadi penulis naskah lakon yang baik.

Pengertian Lakon

Dalam bahasa Sunda lakon disebut sebagai boga lakon, ngalakon, atau yang artinya pemeran utama atau yang melakoni peran suatu cerita. Sementara itu dalam bahasa Jawa, lakon biasa disebut sebagai lelakon yang artinya masih dalam medan makna serupa, yakni memerankan tokoh cerita dengan berkata-kata (verbal) atau tanpa berkata-kata (non verbal) di atas pentas.

Oleh karena itu, tidak mengherankan rasanya jika kedudukan lakon dalam pementasan teater merupakan nyawa, nafas atau ruh dalam menjalin hubungan atau membangun susunan (struktur) cerita melalui penokohan atau peran yang dibawakan seorang atau lebih pemeran.

Pengertian lakon dalam pemetasan teater adalah hasil karya kolektif masyarakat, seniman dan atau sastrawan yang diwujudkan dalam bentuk naskah lakon dengan cara ditulis atau tidak tertulis/leluri (Tim Kemdikbud, 2018, hlm.                 189). Sementara itu, lakon di mata seniman atau kreator seni teater merupakan bahan baku atau sumber ide, gagasan dalam menyampaikan pesan estetis (bentuk/wujud pementasan) dan pesan moral (makna kehidupan) melalui kreativitas pementasan seni teater.

Dapat disimpulkan bahwa pengertian lakon adalah suatu cerita atau kisah yang diwujudkan dalam suatu naskah untuk diperankan oleh pemerannya dengan maksud untuk menjadi gagasan utama atau cerita yang dibawakan dalam suatu pementasan teater.

Lakon Tradisional & Non Tradisional

Namun demikian, lakon juga dapat dipandang berbeda dalam suatu pementasan teater tertentu. Misalnya, dalam pementasan teater tradisional (teater rakyat dan teater istana) di Indonesia, lakon memiliki ciri tidak menggunakan naskah tertulis bersifat baku sebagaimana lakon pada teater non tradisional.

Lakon dalam pementasan teater juga merupakan pelengkap pokok dari keseluruhan bentuk penyajian keseniannya. Menurut Hamid (1976, hlm. 31) Lakon atau cerita dalam teater tradisional biasanya tidak memiliki naskah tertulis, dan dialog dilakukan secara berkembang (mekar) atau secara spontan. Terkadang jalan cerita lakon berkembang dalam pementasannya sendiri. Artinya tanpa penaskahan, hanya alur dan karakter tokoh lakon yang ditentukan lebih dulu kepada para pemainnya.

Oleh karena itu, lakon tidak hanya berarti suatu naskah cerita saja, teksnya adalah yang utama, sementara perwujudannya bisa jadi dilakukan secara turun-temurun dengan jalan verbal, seperti pada berbagai lakon teater tradisional.

Topik Lakon / Tema Lakon Tradisional

Menurut Sembung, (1992, hlm. 26) umumnya cerita-cerita lakon tradisional berasal dari cerita-cerita rakyat yang berbau sejarah. Sebagai manifestasi kehidupan mereka sehari-hari. Temanya berkisar pada kehidupan rumah tangga, kriminalitas, kekejaman, dan kemalangan, serta kelakuan-kelakuan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat.

Contohnya, premis lakon yang biasa terdapat pada lakon tradisional cerita Topeng Banjet adalah:

  1. Kegegabahan dalam bertindak akan menimbulkan penderitaan.
  2. Yang jahat akhirnya menemui nasib yang mengenaskan.

Sementara itu, topik kriminalitas adalah cerita tentang Si Ridon, seorang jawara yang suka memamerkan kejawaraannya dan suka memeras orang lain, tetapi akhirnya ia terbunuh karena ulahnya sendiri melalui tangan teman seperguruannya yang bernama Camang.

Dengan demikian, cerita-cerita teater rakyat dapat digolongkan pada cerita melodramatik (serius dan mendalam) ataupun cerita komikal (lucu), peristiwa-peristiwanya disusun untuk menghasilkan premis yang bertujuan membangkitkan kesadaran ide atau moral yang dapat dipakai baik dalam rumah tangga, maupun dalam kehidupan bermasyarakat secara baik.

Naskah lakon pada teater tradisional juga dapat dituangkan dalam bentuk bedrip atau bagal cerita atau lakon bersifat garis besar dari adegan lakon yang akan di pentaskan. Lakon bersumber dari kisah-kisah roman, kisah 1001 malam (desik), kisah gambaran kehidupan sehari-hari, sejarah, legenda, babad, epos, dst. yang mengakar, tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat pemiliknya.

Sumber-sumber cerita atau naskah lakon dapat diperoleh melalui:

  1. Cerita-cerita fiksi, cerita sejarah, cerita–cerita daerah Nusantara atau cerita daerah setempat lebih khususnya,
  2. Folklore dunia, yang biasa menjadi sumber lakon teater remaja karena sarat nilai pendidikan terdapat pada; kisah 1001 malam (Lampu Aladin, Ratu Balqis, Sang Penyamun, dst..),

Legenda (Sangkuriang, Sangmanarah, Lutungkasarung, Si Pahit Lidah, Batu Menangis dst..),

  1. Sejarah (Pangeran Borosngora, Pangeran Gesan Ulun, Pangeran Kornel, Wali Songo, dst.),
  2. Babad ( Babad Tanah Jawa, Babad Tanah Sunda, Babad Kacirebonan, Babad Tanah Leluhur,dst.),
  3. Hikayat (Raja-raja,Kasultan, Panji Semirang. Calanarang, Umar Amir, dst.), dan Epos (Mahabarata dan Ramayana).

Konflik pada Lakon

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa ciri utama dari lakon atau teks narasi lain adalah memiliki konflik. Dapat dikatakan bahwa konflik merupakan inti dari suatu kisah atau lakon. Hal tersebut karena dengan adanya konflik berupa pertentangan yang dialami pelaku, pemain atau tokoh di dalam lakon, maka cerita akan mengalir dan mampu berkembang dan menjadi menarik untuk diikuti.

Konflik cerita dalam lakon dapat dibangun dengan terjadinya pertentangan tokoh utama (protagonis) dan tokoh lawan (antagonis) atau bisa terjadinya tokoh utama dengan dirinya sendiri (intern conflict), seperti memilih keyakinan atau kejiwaan yang dihadapi.

Konflik cerita pun dapat terjadi apabila tokoh utama mengalami pertentangan dengan lingkungan (extern conflict), yakni mengubah suatu kebiasaan atau masyarakat adat yang dapat menimbulkan musibah, wabah, seperti penyakit, banjir, dan bencana lain yang ditimbulkan akibat pengaruh alam dan lingkungan masyarakat.

Secara umum, konflik cerita dapat dibangun dengan menghadirkan beberapa pola, diantaranya ;

  1. pola perubahan,
  2. pola kejayaan dan keruntuhan,
  3. pola kekalahan dan kemenangan,
  4. pola penderitaan dan kebahagian,
  5. pola penindasan dan kemerdekaan dan lainnya yang dialami tokoh utama dalam menggulirkan kisah atau cerita yang berujung apakah happy ending atau tragis kematian.

Konflik cerita juga dapat juga dibangun dengan menghadirkan tiga unsur utama, yakni :

  1. Poima (itikad tokoh utama),
  2. Mathema (adanya hambatan tokoh lain atau sumber lain), dan
  3. Pathema (dampak atau hasil kemenangan atau tragis).

Ciri Lakon yang Baik

Lalu bagaimana caranya agar kita mampu memilih, menciptakan, hingga menggunakan lakon yang baik agar pementasan teater yang kita bawakan berhasil? Menurut Tim Kemdikbud (2018, hlm. 192)Lakon yang baik, tidak lepas dari beberapa pertimbangan, yakni;

  1. kejelian memilih lakon sesuai usia dan perkembangan peserta didik,
  2. memiliki daya tarik tematik,
  3. memiliki waktu yang cukup dalam penyiapan materi pementasan,
  4. lakon yang dibawakan menjadi wahana dan sarana pendidikan dalam berbagi pengalaman dengan positif dan bersama.

Jenis dan Bentuk Lakon

Pada beberapa pemaparan sebelumnya, dapat diketahui bahwa lakon memiliki jenis dan bentuk yang berbeda-beda. Berikut adalah pemaparan mengenai jenis dan bentuk lakon menurut Tim Kemdikbud (2018, hlm. 195-196).

Jenis Lakon

Lakon dibangun oleh peristiwa di dalam adegan. Adegan merupakan bagian dari babak yang ditandai dengan keluar masuknya tokoh, perupaan atau musik di dalam seni pementasan. Dengan demikian dalam satu babak bisa terjadi lebih dari satu adegan. Babak itu sendiri adalah susunan dari beberapa adegan yang ditandai dengan terjadinya pergantian setting (tempat, waktu dan kejadian peristiwa) dalam sebuah peristiwa kejadian.

Berdasarkan jumlah babak, lakon dapat dibedakan menjadi dua jenis yakni :

  1. Lakon pendek, yakni lakon yang terdiri dari satu babak dengan beberapa peristiwa adegan di dalamnya sehingga hanya membutuhkan durasi sekitar 45 – 60 menit.
  2. Lakon panjang, yakni lakon yang dipentaskan mencapai tiga sampai lima babak dengan beberapa adegan di dalamnya dan memakan durasi 90 – 120 menit.

Bentuk Lakon

Bentuk-bentuk lakon di dalam seni teater dan seni drama pada dasarnya sama, yakni lakon; tragedi, komedi, tragedi komedi dan melodrama. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing bentuk lakon.

  1. Lakon tragedi, biasanya mengandung unsur sejarah perjuangan, memiliki pola penceritaan kejayaan dan keruntuhan dan ciri-ciri lain bahwa peran utama mengalami irama tragis; poima (itikad peran utama), mathema (peran utama mengalami hambatan), pathema (klimaks peran utama) berujung tragis, yakni mengalami kecacatan (fisik – psikis) atau kematian. Beberapa contoh bentuk lakon tragedi; Si Ridon Jago Karawang, Janur Kuning, Tragedi Marsinah, Tragedi Jaket Kuning, Bandung Lautan Api,dan lain-lain.
  2. Bentuk lakon komedi, biasanya pola penceritaaan diulang-ulang, menjadi bahan tertawaan, menghibur orang lain, penuh dengan satir (sindiransindiran) dan berujung peran utama mengalami kebahagian atau tragis akibat perbuatan dirinya sendiri. Contohnya; Si Kabayan, Karnadi Bandar Bangkong, Warkop Dono Indro Kasino, dan lain-lain.
  3. Pada Lakon tragedi komedi, peran utama akan mengalami atau menjadi bahan tertawaan orang lain berujung dengan tragis atau mengalami penderitaan atau kematian. Contohnya lakon; Si Pitung Jago Betawi, Samson Betawi, Mat Peci, Robin Hood, dan lain-lain.
  4. Lakon melodrama, biasanya mengangkat tema-tema keluarga, percintaan atau kisah-kisah dua sejoli yang berjuang dalam memadu kasih, berujung dengan kebahagian atau happy ending. Contohnya; Romi dan Juli, Gita Cinta dari SMA, Si Doel Anak Sekolahan, dan lain-lain.

Ciri-Ciri Lakon Teater Rakyat dan Teater Istana

Sementara itu, pada lakon teater tradisional dikenal istilah lakon teater rakyat dan teater istana. Ciri-ciri lakon teater rakyat dan teater istana sendiri adalah sebagai berikut.

Ciri Lakon Teater Rakyat

  1. Tidak ada naskah baku, lakon disampaikan dalam bentuk bagal, bedrip atau garis besar cerita saja bersumber cerita daerah setempat,
  2. Lakon lebih mengutamakan isi seni (nilai pesan) dan mengusung fungsi terkait hiburan dari pada mengedepankan keindahan bentuk seni (estetis). Oleh karena tidak heran bahwa kecenderungan lakon dalam pementasan teater tradisional rakyat unsur-unsur seni di dalamnya bersifat tidak baku tergantung permintaan yang punya hajat.
  3. Lakon sebagai unsur cerita, bersumber dari kisah-kisah roman dan drama kehidupan dengan topik kriminal, sejarah, dan kisah yang tidak biasa dalam kehidupan.
  4. Bentuk lakon cenderung bersifat komedi dan melodrama. Yakni, lakon yang diangkat lebih mengutamakan unsur hiburan sekaligus memberikan gambaran pesan lakon yang bersifat sederhana sesuai kebiasaan hidup masyarakat pendukungnya.
  5. Unsur-unsur lakon di dalamnya cenderung bersifat sederhana, tidak rumit, mudah dicerna dan memiliki keakraban cerita dengan masyarakat pendukungnya.
  6. Bahasa yang digunakan dalam menyampaikan pesan cerita atau lakon cenderung menggunakan bahasa daerah yang tidak terikat dan cenderung menggunakan bahasa keseharian; lugas, dan bebas (Tim Kemdikbud, 2018, hlm. 194).

Ciri Lakon Teater Istana

  1. Lakon bersumber cerita Ramayana, Mahabarata dan cerita Panji (hikayat kebesaran rajaraja).
  2. Lakon lebih mengedepankan keindahan seni yang matang dan mapan. Oleh karenanya, seni istana disebut seni adiluhung yang mapan (isi seni dan nilai seni) dan mengusung fungsi terkait kebesaran raja, upacara khusus. Oleh karena tidak heran bahwa kecenderungan lakon dalam pementasan teater tradisional istana unsur-unsur seni di dalamnya bersifat baku dan terorganisir dengan baik.
  3. Unsur cerita, bersumber dari kisah; Babad (cerita silsilah tanah leluhur), Hikayat (cerita panji), dan Epos (mahabarata dan ramayana).
  4. Bentuk lakon cenderung bersifat tragedi, yakni peristiwa yang mengangkat kisah-kisah perjuangan para leluhur dan orang-orang yang memiliki kharisma dan ketuladan.
  5. Unsur-unsur lakon di dalamnya cenderung bersifat baku, rumit, dan memiliki estetika tinggi. Karena dirancang oleh para empu yang memiliki keahlian di bidangnya.
  6. Bahasa yang digunakan dalam menyampaikan pesan cerita atau lakon cenderung menggunakan bahasa daerah yang ketat atau menggunakan bahasa dengan idiom-idiom bahasa yang benar sesuai kebutuhannya.

Unsur Lakon Teater

Lakon teater adalah suatu karya seni utuh yang melibatkan banyak unsur yang membangunnya. Unsur-unsur lakon teater yang menjadikan suatu karya menjadi lakon teater tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Alur atau Jalan cerita
    Alur ini dalam bahasa Inggris atau istilah teknis sastra juga disebut sebagai plot. Alur dapat diartikan sebagai jalan cerita, susunan cerita, garis cerita atau rangkaian cerita yang dihubungkan dengan sebab akibat (hukum kausalitas).
  2. Tema
    Tema adalah pokok pikiran. Di dalam tema terkandung tiga unsur pokok, yaitu (1) masalah yang diangkat, (2) gagasan yang ditawarkan, dan (3) pesan yang disampaikan pengarang.
  3. Penokohan
    Dalam teater dapat dibagi dalam beberapa peran, antara lain: protagonist (tokoh utama), antagonis (tokoh yang memiliki konflik atau perbedaan pendapat dengan tokoh utama), deutragonis (yang berpihak pada tokoh utama), foil (berpihak pada antagonis), tetragoni (memihak pada salah satu tokoh lain), confident (tempat penyampaian tokoh utama) , raisonneur (tokoh yang menjadi corong bicara pengarang kepada penonton) dan utility (adalah tokoh pembantu baik dari kelompok hitam atau putih).
  4. Karakter
    Karakter adalah watak atau perwatakan yang dimiliki tokoh atau pemeran di dalam lakon. Watak atau perwatakan yang dihadirkan pengarang dengan ciri-ciri secara khusus, misalnya berupa; status sosial, fisik, psikis, intelektual, dan religi.
  5. Setting
    Setting dalam sebuah lakon merupakan unsur yang menunjukan; tempat dan waktu kejadian peristiwa dalam sebuah babak. Berubahnya setting berarti terjadi perubahan babak, begitu pula dengan sebaliknya. Perubahan babak berarti terjadi perubahan setting.
  6. Point of view
    Setiap lakon, termasuk lakon teater anak-anak, remaja, dewasa atau pun untuk semua umur pasti melibatkan sudut pandang pengarang atau penulis. Sudut pandang pengarang atau penulis ini disebut point of view.

Prinsip Lakon Teater

Teater sebagai seni merupakan salah satu jenis seni pementasan dengan medium utamanya manusia yang dibangun oleh beberapa unsur pembentuknya, salah satunya unsur lakon. Berbicara lakon yang berupa dialog atau naskah ini tentunya tidak dapat lepas dari sastra pula, terutama ketika kita membicarakan unsur yang membangunnya.

Pesona atau daya tarik (keindahan) di dalam sastra, setidaknya dapat dipahami melalui: bentuk, isi, ekspresi, dan bahasa ungkap seorang sastrawan dengan persyaratan unsur-unsur di dalamnya, yaitu adanya; Alur, tema, tokoh, karakter, setting, dan sudut pandang pengarang. Unsur-unsur tersebut, hendaknya mengandung muatan;

  1. Keutuhan (unity),; artinya setiap bagian atau unsur yang ada menunjang kepada usaha pengungkapan isi hati sastrawan. Dengan kata lain tidak adanya unsur kebetulan, semuanya direncanakan dan dipertimbangkan secara seksama.
  2. Keselarasan (harmony), artinya berkenaan dengan hubungan satu unsur dengan unsur lain, harus saling menunjang dan mengisi bukan mengganggu atau mengaburkan unsur yang lain.
  3. Keseimbangan (balance), ialah bahwa unsur-unsur atau bagian-bagian karya sastra, baik dalam ukuran maupun bobotnya harus sesuai atau seimbang dengan fungsinya. Sebagai contoh, adegan yang kurang penting dalam naskah drama akan lebih pendek daripada adegan yang penting. Demikian juga halnya di dalam puisi bahwa yang dianggap penting akan terjadi pengulangan kata atau kalimat dalam baris lain.
  4. Fokus atau pusat penekanan sesuatu unsur (right emphasis), artinya unsur atau bagian yang dianggap penting harus mendapat penekanan yang lebih daripada unsur atau bagian yang kurang penting. Unsur yang dianggap penting akan dikerjakan sastrawan lebih seksama, sedang yang kurang penting mungkin hanya garis besar dan bersifat skematik saja.

Teknik Menyusun Naskah Lakon

Dalam praktiknya, menyusun naskah lakon memerlukan suatu cara atau teknik untuk penuangan gagasan dalam bentuk tulisan. Adapun cara yang dapat digunakan dalam kreativitas menyusun naskah lakon dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti menerjemahkan, mengadaptasi, menyadur dan menyanggit.

  1. Teknik Menerjemahkan
    Menerjemahkan merupakan salah satu teknik menyusun naskah lakon yang dapat dilakukan guna memenuhi pengadaan lakon teater. Dalam kenyataannya lakon hasil terjemahan atau kisah sangat sulit didapat, terlebih lagi lakon kisah berbahasa asing. Oleh karena itu bentuk pementasan atau kisah satu-satu hanya ada di Indonesia, dan salah satu bentuk yang mendekati bentuk atau kisah milik asing adalah Opera.
  2. Teknik Adaptasi
    Adaptasi secara harfiah dapat diartikan menyesuaikan atau penyesuaian diri sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan yang dihadapi. Adaptasi dalam hubungan naskah lakon merupakan salah satu teknik menyusun naskah lakon yang dapat dimanfaatkan untuk melengkapi perbendaharaan naskah lakon seni teater bersumber cerita, kisah atau lakon yang ada dan pernah tumbuh dan berkembang di daerah.
  3. Teknik Sadur
    Sadur adalah teknik menyusun naskah dengan cara menggubah atau merubah sebagian unsur karya orang lain menjadi karya kita, tetapi dengan tidak menghilangkan, merusak unsur-unsur pokok lakon dari pengarangnya. Lakon saduran dengan tidak mencantumkan sumber cerita dan pengarang aslinya dapat disebut plagiat (mencaplok, mengaku karya orang lain menjadi karya sendiri).
  4. Sanggit
    Istilah Sanggit atau menyanggit dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1984) mengandung pengertian bergeser atau menggeser sesuatu tetapi dalam satu hal yang sama. Seperti bambu berderik apabila terjadi gesekan dengan bambu yang lain atau gigi kita menderik apabila terjadi gesekan dengan gigi yang lain.